Webinar Aktualisasi Profesional Learning Community (PLC) pada Pembelajaran Mendalam untuk Transformasi Holistik SMAN 1 Kartasura melalui Kurikulum Cinta, Pembelajaran Berdiferensiasi, Role Playing, dan Game Based Learning
KARTASURA - Seminar Hari Senin memuat rangkaian paparan praktik baik pembelajaran inovatif yang dilaksanakan pada Senin, 15 Desember 2025 di SMA Negeri 1 Kartasura. Seminar ini bertujuan untuk mendiseminasikan implementasi Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) melalui berbagai pendekatan pedagogis yang berpusat pada murid, kolaboratif, dan kontekstual, sekaligus memperkuat transformasi budaya belajar di sekolah.
Paparan pertama disampaikan oleh Suharja, S.Pd., M.Si., dengan judul “Aktualisasi PLC pada Pembelajaran Mendalam untuk Transformasi Holistik SMA Negeri 1 Kartasura”. Materi ini membahas penguatan Professional Learning Community (PLC) sebagai ekosistem belajar profesional guru yang menekankan kolaborasi, refleksi berbasis data, dan fokus pada peningkatan kualitas pembelajaran murid. Melalui praktik inkuiri kolaboratif, observasi sejawat, serta kepemimpinan pembelajaran kepala sekolah, PLC terbukti meningkatkan kapasitas pedagogis guru, kemandirian dan keterlibatan murid, serta membangun budaya sekolah yang kolaboratif, reflektif, dan aman secara psikologis. Hasil implementasi menunjukkan capaian transformasi pembelajaran yang sangat tinggi, menegaskan bahwa perubahan budaya belajar profesional menjadi kunci utama keberhasilan transformasi pendidikan.

Paparan kedua disampaikan oleh Ikhsan Mahendra, S.S., M.A., dengan judul “Implementasi Joyful Learning dengan Model Role Playing Berbasis Minat Siswa pada Materi Unggah-Ungguh Bahasa Jawa”. Praktik baik ini dilatarbelakangi oleh rendahnya minat dan ketuntasan belajar siswa akibat metode ceramah yang monoton dan minim praktik. Pembelajaran dirancang menggunakan Project Based Learning (PjBL) melalui proyek pembuatan video role playing. Siswa terlibat aktif dalam lima fase PjBL, mulai dari perumusan masalah hingga presentasi hasil, dengan dukungan kolaborasi dan media digital. Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan minat belajar siswa (98% partisipasi aktif) dan ketuntasan belajar (97% siswa tuntas), serta meningkatnya kreativitas dan kesadaran siswa terhadap pelestarian budaya Jawa.

Paparan ketiga disampaikan oleh Yasin Yusuf Fitriyanto, S.Pd., dengan judul “Kurikulum Berbasis Cinta dalam Bingkai Kurikulum Merdeka dengan Pendekatan Pembelajaran Mendalam untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran PAI”. Praktik baik ini menempatkan Kurikulum Berbasis Cinta sebagai fondasi emosional dan spiritual dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Melalui integrasi kebebasan belajar, keteladanan guru, dan pembelajaran bermakna, tercipta suasana belajar yang humanis, aman, dan relevan dengan kehidupan peserta didik. Implementasi ini berdampak positif pada keaktifan siswa, penguatan karakter religius, empati, serta selaras dengan Profil Pelajar Pancasila.

Paparan keempat disampaikan oleh Wulandari, S.Pd., M.Pd., dengan judul “Implementasi Game Based Learning pada Pembelajaran Pendidikan Pancasila untuk Meningkatkan Minat Siswa pada Materi Sistem Hukum Indonesia”. Praktik ini dilatarbelakangi oleh rendahnya minat dan motivasi belajar siswa. Guru menerapkan pembelajaran mendalam melalui Game Based Learning dengan memanfaatkan aplikasi digital seperti Gimkit dan Wayground. Kegiatan pembelajaran mencakup asesmen diagnostik, kerja kelompok, kuis interaktif, dan evaluasi individu. Hasilnya menunjukkan peningkatan minat, motivasi, keaktifan, dan pemahaman siswa, serta berkembangnya keterampilan sosial dan terciptanya suasana belajar yang positif dan menyenangkan.

Paparan terakhir disampaikan oleh Cahyo Samodraningrum, S.Pd., dengan judul “Pembelajaran Berdiferensiasi dengan Pemetaan Produk pada Materi Trigonometri: Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis dan Kreatif Siswa”. Praktik baik ini disusun menggunakan kerangka STAR (Situation, Task, Action, Result). Permasalahan awal berupa abstraknya materi trigonometri dan kecenderungan pembelajaran hafalan diatasi melalui pembelajaran kooperatif dan berbasis proyek dengan diferensiasi produk sesuai gaya belajar siswa. Hasil implementasi menunjukkan pembelajaran menjadi lebih bermakna, menarik, dan mendorong keterlibatan aktif siswa serta peningkatan keterampilan berpikir kritis dan kreatif.
Secara keseluruhan, menggambarkan pelaksanaan seminar yang kaya akan praktik baik dan inovasi pembelajaran di berbagai mata pelajaran. Kegiatan ini menjadi sarana refleksi bersama dan penguatan komitmen guru untuk terus mengembangkan pembelajaran mendalam yang berpusat pada murid, bermakna, menyenangkan, dan berkelanjutan di SMA Negeri 1 Kartasura.