Inkuiri Kolaboratif Lokaswara Wahana Aktualisasi Praktik Baik Implementasi Pembelajaran Mendalam Berbasis Kearifan Lokal di SMA Negeri 1 Kartasura tahun 2025
KARTASURA - Kegiatan Diseminasi Praktik Baik Pembelajaran Mendalam dilaksanakan pada Jumat, 8 Desember 2025 pukul 08.00 WIB bertempat di SMA Negeri 1 Kartasura. Kegiatan ini bertujuan untuk mendiseminasikan berbagai praktik baik inovasi pembelajaran yang telah diterapkan oleh guru dalam rangka mendukung transformasi pendidikan berbasis Pembelajaran Mendalam (Deep Learning), digitalisasi, dan penguatan kearifan lokal.
Kegiatan diawali dengan penguatan arah kebijakan dan transformasi pembelajaran oleh Kepala SMA Negeri 1 Kartasura, yang menekankan pentingnya penyelarasan visi, misi, dan tujuan sekolah melalui pendekatan Inkuiri Kolaboratif, Inspira Initiative Learning, Coaching Grow Q, serta pemanfaatan teknologi digital mobile-friendly sebagai akselerator pembelajaran mendalam. Pembelajaran berbasis kearifan lokal dipandang sebagai fondasi strategis yang mampu mengaitkan teori dengan konteks kehidupan nyata siswa, menumbuhkan karakter, serta memperkuat identitas budaya sekolah. Hasil monitoring dan evaluasi menunjukkan capaian implementasi pembelajaran berada pada kategori sangat baik dengan pembelajaran yang semakin berpusat pada murid.

Selanjutnya, paparan praktik baik digitalisasi pembelajaran disampaikan oleh Pak Ali, yang menjelaskan implementasi kebijakan nasional digitalisasi pendidikan melalui pemanfaatan Interactive Flat Panel (IFP). Perangkat ini mendukung pembelajaran yang lebih interaktif, kolaboratif, dan menarik. Disampaikan pula kewajiban administrasi pelaporan melalui SIMASPRAS sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas bantuan sarana pendidikan.

Paparan berikutnya oleh Pak AP mengangkat korelasi filosofi lakon Gathutkaca dengan visi, misi, dan tujuan SMA Negeri 1 Kartasura. Nilai perjuangan, kolaborasi, integritas, dan penggemblengan karakter dalam kisah Gathutkaca diposisikan sebagai cermin proses pendidikan di sekolah. Model pendidikan yang dianalogikan sebagai Gathutkaca Framework menekankan penemuan potensi, penguatan karakter, pemanfaatan teknologi, serta peran kepala sekolah sebagai pemimpin visioner dan penjamin mutu.

Pak WN memaparkan aspek pendanaan dan proses latihan dalam kegiatan seni budaya, khususnya pentas Wayang Wong. Disampaikan bahwa pendanaan dilaksanakan secara transparan tanpa pungutan, bersumber dari optimalisasi BOS, sponsor pendidikan, donatur orang tua, alumni, serta kolaborasi dengan seniman. Proses latihan dilakukan secara terstruktur mulai dari tahap awal hingga gladi bersih. Kegiatan ini terbukti menjadi sarana pembelajaran karakter berbasis gotong royong dan budaya.
.jpeg)
Paparan selanjutnya oleh Pak WW menyoroti transformasi naskah klasik ke panggung digital Lokaswara 2025 sebagai penguatan pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis budaya. Kegiatan ini berkontribusi pada peningkatan literasi, komunikasi, kepercayaan diri siswa, serta penguatan budaya sekolah melalui pembelajaran kontekstual di luar kelas.

Bu Ikke mempresentasikan praktik baik pembelajaran Bahasa Jawa melalui Inkuiri Kolaboratif dengan media Wayang Wong dalam kegiatan Lokaswara. Pembelajaran dilaksanakan melalui tahap pra-pementasan, pementasan, dan pasca-pementasan dengan refleksi 4F. Hasilnya menunjukkan peningkatan minat, pemahaman, keterlibatan siswa, serta penguatan pelestarian budaya lokal.
.jpeg)
Selanjutnya, Bu Mila memaparkan praktik Project Based Learning (PjBL) bervisi Deep Learning pada pembelajaran tari tradisional Nusantara dengan dukungan teknologi digital mobile-friendly. Melalui pemanfaatan smartphone dan media digital, pembelajaran berhasil meningkatkan kemampuan komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas siswa secara signifikan, sekaligus tetap menjaga nilai-nilai budaya.

Paparan terakhir oleh Bu Soim menekankan best practice kokurikuler berbasis kearifan lokal menggunakan model STAR. Kegiatan kokurikuler dirancang terstruktur dan terintegrasi lintas mata pelajaran dengan objek kearifan lokal di sekitar Kartasura. Refleksi menunjukkan dampak positif terhadap peningkatan keterampilan riset, kolaborasi, komunikasi siswa, serta kompetensi guru.

Secara keseluruhan, kegiatan Pre-Seminar ini menunjukkan bahwa transformasi pembelajaran di SMA Negeri 1 Kartasura telah berjalan secara kolaboratif, inovatif, dan berkelanjutan. Diseminasi praktik baik ini menjadi sarana refleksi bersama serta penguatan komitmen guru untuk terus mengembangkan pembelajaran yang bermakna, berkarakter, berbasis budaya, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.